ETNOGRAFI PAPUA
Disusun Oleh:
Rezki
Riyan Purnama
Rizky Wahyu Ramadhan
Ridho Elteza
|
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SORONG
FAKULTAS TEKNIK INFORMATIKA
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah kami yang berjudul SUKU DANI.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari
sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun
tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah SUKU
DANI ini dapat membantu pembaca mengetahui dan mengenal lebih dekat tentang
salah satu suku yang ada di papua yaitu SUKU DANI.
Sorong , 28
oktober 2017
Penyusun
BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang
Nama Dani sebagai nama suku diberikan oleh orang luar pada
tahap-tahap awal suatu ekspedisi gabungan Amerika dan Belanda pada tahun 1926
pimpinan M.W. Striiling. Arti nama itu dan asal-usul kata itu tidak jelas,
namun menurut catatan yang dikutip dari laporan Le Roux, nama Dani berasal dari
bahasa Moni, yakni “Ndani” yang berarti “sebelah timur arah matahari
terbit”. Para penduduk asli sendiri tidak tahu apa artinya kata itu dan tidak
tahu siapa yang memberikan nama suku mereka. Masyarakat di sebelah lembah besar
mengenal “Ndani” dalam pengertian “perdamaian”.
Dalam tradisi asli masyarakat Hubula
sendiri tidak pernah memberikan suatu nama untuk kelompok-kelompok sosial
politik di wilayah lembah besar, tetapi setiap kesatuan politik memiliki
nama-nama tertentu menurut aliansi dan konfederasi perang. Paham suku menurut
masyarakat asli adalah sama dengan paham kesatuan aliansi dan konfederasi
perang. Sering nama wilayah sama dengan aliansi dan konfederasi perang dan itu
dimengerti oleh orang Hubula sebagai suku. Maka paham suku menurut
pemahaman orang Hubula berbeda dengan pengertian modern, misalnya,
aliansi Ohena sama dengan suku Ohena, demikian pula Kurima,
Asolokobal, Wio atau Mukoko, Omarikmo.
Sejak
dulu sebelum kontak dengan dunia luar, orang-orang yang bermukim di lembah
besar ini memandang dirinya sebagai orang Hubula. Mereka menamakan
dirinya Hubula untuk membedakan dirinya dengan orang-orang yang bermukim
di luar lembah besar. Orang-orang di balik gunung sebelah utara dan timur
disebut Yali, orang-orang di bagian selatan lembah dan di balik gunung
disebut Kurima dan orang-orang di sebelah barat dan utara dari lembah
besar disebut Palika. Namun nama Hubula untuk orang-orang yang
bermukim di lembah besar tidak pernah dipakai, baik pada zaman ekspedisi, zaman
misionaris, zaman pemerintah Belanda maupun zaman pemerintah Indonesia sampai
sekarang. Nama Hubula sebagai nama suku untuk masyarakat asli di lembah
besar ini mulai dipakai secara resmi setelah Kongres Papua tahun 2000 dan
secara khusus sejak dibentuknya Dewan Adat Papua versi rakyat Papua pada 2001.
Pokok-pokok yang diangkat oleh penulis dalam tulisan ini
adalah hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan suku Dani pada umumnya. Sesuai
dengan rujukan etnografi yang dipakai oleh penulis maka pembahasan tulisan ini
diawali dengan pembicaraan seputar lokasi, lingkungan dan demografi. Pembahasan
berlanjut dengan asal mula dan sejarah suku Dani. Bahasa sebagai salah satu
sarana komunikasi yang paling vital juga dibahas pada bagian berikutnya. Pada
bagian selanjutnya juga dibahas tentang sistem teknologi, sistem mata
pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi dan kesenian.
Pendapat penulis mengenai situasi aktual suku Dani, khususnya hal-hal yang
berhubungan dengan pokok yang telah disebutkan menjadi bagian akhir dari
pembahasan dalam tulisan ini.
1.
Apa itu antropologi ?
2.
Apa itu Etnografi ?
3.
Seperti apa etnografi dari suku Dani mulai dari letak ,
bahasa , kesenian , agama , samapa sistem pencahariaannya.
Adapun tujuan dari makalh ini adalah untuk memenuhi tugas
matakuliah Etnografi Papua. Selain
itu agar kita dapat mengetahui lebih detail mengenai salah satu suku yang ada
di papua yaitu suku Dani , mulai dari Letaknya, bahasa yang digunakan, agama
yang dianut , sampai dengan sistem mata pencaharian mereka.
BAB II
Konsep Antopologi & Etnografi
Antropologi berasal dari kata yunani antropos, yang berarti “manusia atau
orang”, dan logos yang berarti studi (ilmu). Jadi, antropologi merupakan
disiplin yang mempelajari manusia berdasarkan rasa ingin tahu yang tiada henti-
hentinya.Antropologi merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari
budaya masyarakat. Antropologi juga mempelajari manusia sebagai mahluk biologis
sekaligus mahluk social. Ilmu ini lahir atau muncul dari keterkaitan orang-
oang eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, dan budaya yang berada
di eropa. Antropologi mirip sosiologi apabila antropologi lebih memusatkan pada
penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, dalam arti kesatuan masyarakat yang
tinggal di daerh yang sama, sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat
dan kehidupan sosialnya.
Konsep antropologi menurut para
Ahli ada 3 yaitu :
a.
William A. Haviland
Antropologi adalah studi mengenai manusia
,yang berusaha menyusun generasisasi yang bermanfat tentang manusia dan juga
perilakunya serta agar dapat memperoleh penegertian yang bisa lengkap mengenai
keanekaragaman.
b.
Koentjaraningrat
Antropologi adalah sebuah ilmu
yang mempelajari umat manusia yanf pada umumnya dengan mempelajari sebuah
keanekaragaman warna, bentuk fisik dari masyarakatnya serta kebudayaan yang
sudah dihasilkan.
c.
David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas
tentang umat manusia.
Etnografi berasal dari kata ethnos yang berarti bangsa dan grafein yang
berarti menulis, lukisan, gambaran. Oleh karena itu, etnografi juga bisa
dipahami sebagai deskripsi tentang suatu suku bangsa menyangkut struktur, adat
istiadat, dan kebudayaannya.
Konsep etnografi menurut para ahli
yaitu :
1.
James P. Spradley
mengatakan di dalam bukunya Metode Etnografi bahwa etnografi adalah
pekerjaan mendeskripsikan
suatu kebudayaan dengan tujuan memahami suatu pandangan hidup dari sudut
pandang penduduk asli.
2.
Wolcott (1977)
Etnografi adalah suatu metode khusus atau satu set metode yang didalamnya
terdapat berbagai bentuk yang mempunyai karakteristik tertentu termasuk
memahami dan mengikuti kehidupan sehari hari dari seseorang dalam waktu yang
lama , melihat apa yang terjadi ,mendengarkan apa yang dikatakan , bertanya
kepada mereka.
3.
Atkinson(1992)
Diartikan sebagai penulisan budaya bedasarkan temuan temuan dilapangan.
BAB III
Etnografi Suku
Suku Dani menyebar di tengah dataran
tinggi jantung pulau Cenderawasih – Papua Barat, pada ketinggian sekitar 1600
meter di atas permukaan laut. Di tengah-tengah pegunungan Jayawijaya terbentang
luas Lembah Dani yang sering dijuluki lembah agung (Grand Valley),
sepanjang ±15 km, dan bagian yang terlebar berjarak ± 10 km. Lembah Dani ini
dialiri oleh sungai Dani (Palim = potong, diindonesiakan menjadi Dani/sungai
yang memotong lembah besar), yang bersumber di lereng pegunungan Jayawijaya dan
mengalir ke arah timur. Pada 139° BT sungai ini membelok dan terjun bergabung
dengan sungai Mamberamo.
Lembah Dani memiliki luas sekitar 1200 km2. Secara
geografis Kabupaten Jayawijaya terletak antara 30.20º - 50.20º LS
serta 137.19º sampai 141º BT. Batas-batas daerah
Kabupaten Jayawijaya adalah sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan
Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Yapen Waropen, sebelah barat dengan
Kabupaten Paniai, sebelah
selatan dengan Kabupaten Merauke dan sebelah timur dengan
negara Papua New Guinea, (BPS, Kabupaten Jayawijaya, 2007).
Jayawijaya beriklim
tropis basah. Hal ini
dipengaruhi oleh letak ketinggian dari permukaan laut dengan suhu
rata-rata 17,50º C dengan curah hujan rata-rata 152,42 hari
per tahun,
tingkat kelembaban di atas 80%, angin berhembus sepanjang tahun dengan
kecepatan rata-rata tertinggi 14 knot/jam dan terendah 2,5 knot/jam. Topografi
Kabupaten Jayawijaya terdiri
dari gunung-gunung yang
tinggi dan lembah-lembah yang
luas. Di antara puncak-puncak gunung yang ada, beberapa di
antaranya selalu tertutup salju, misalnya Pucak Trikora (4.750 m), Puncak
Yamin (4.595 m) dan Puncak
Mandala
(4.760 m). Tanah pada
umumnya terdiri dari batu kapur/gamping dan granit yang terdapat di
daerah pegunungan,
sedangkan di sekeliling lembah merupakan percampuran antara endapan lumpur, tanah
liat dan lempung.
Di daerah ini terdapat banyak margasatwa yang aneh dan
menarik yang hidup di tengah-tengah pepohonan tropis yang luas dan beraneka
ragam. Hutan-hutan tropis ditumbuhi oleh berbagai tumbuhan dan hutan cemara,
semak rhodedendronds dan spesies tanaman pakis dan anggrek yang sangat
mengagumkan. Dekat dengan daerah salju di puncak-puncak gunung terdapat tanaman
tundra. Hutan-hutan juga memiliki jenis-jenis kayu yang sangat beranekaragam.
Hutan-hutan dan padang rumput Jayawijaya merupakan tempat hidup kuskus,
kanguru, kasuari dan banyak spesies burung misalnya cenderawasih, mambruk dan
nuri. Selain itu juga ada jenis kupu-kupu yang beranekaragam warna dan coraknya.
Kekerabatan suku Dani bersifat patrilineal. Garis keturunan
dihitung dari satu kelompok nenek moyang mulai dari ayah sampai enam atau tujuh
generasi. Perkawinan orang Dani bersifat poligini, di mana seorang laki-laki
memiliki beberapa orang istri. Keluarga batih ini tinggal di satu satuan tempat
tinggal yang disebut silimo. Satu silimo terdiri dari
beberapa bangunan tempat tinggal istri-istri dan satu tempat tinggal pria.
Dalam satu silimo bisa terdapat beberapa keluarga batih. Sebuah desa
Dani terdiri dari tiga sampai empat silimo yang dihuni delapan sampai
sepuluh keluarga.
Masyarakat
Baliem (Dani) senantiasa hidup berdampingan dan saling tolong menolong.
Kehidupan kemasyarakatan suku Dani memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
*
Masyarakat Dani memiliki kerja sama yang bersifat tetap dan selalu bergotong
royong dalam menyelesaikan setiap pekerjaan. Misalnya dalam membuka kebun baru.
Laki-laki mengolah tanah hingga siap ditanami dan setelah itu kaum wanita
menanam dan menyianginya.
*
Setiap rencana pendirian rumah selalu didahului dengan musyawarah yang biasanya
dipimpin oleh seorang penatua adat/kepala suku. Musyawarah tersebut berlangsung
atas permintaan pemilik bangunan atau rumah yang akan dibangun. Musyawarah
biasanya dilakukan di rumah laki-laki (honai) atau kadang kala di
halaman depan rumah laki-laki dari klen pemilik rumah. Dalam musyawarah itu
dibicarakan lokasi atau tempat mendirikan bangunan, pembagian tugas dan waktu
pelaksanaannya.
Jumlah penduduk Suku Dani di Lembah Dani ± 60.000 orang.
Sebagian besar orang Dani berambut keriting, berkulit cokelat tua, dengan
tinggi badan rata-rata 1,60 m. Tetapi ada pula yang tingginya mencapai 1,70 m.
Selain itu, ada yang tingginya 1,53 m. Namun, ada juga orang Dani yang berambut
ombak dan berkulit terang, seperti sebagian orang yang ada di wilayah Kurulu.
Ada beberapa versi mitologi mengenai
asal usul suku Dani. Asal usul itu sebagai berikut:·
Suku Dani berasal dari keturunan sepasang suami istri yang
menghuni suatu danau di sekitar kampung Maima di Lembah Dani Selatan. Mereka
mempunyai anak bernama Wita dan Waya. Keturunan
kedua orang ini membagi masyarakat Dani dalam 2 moety/paruh masyarakat yaitu keturunan
Wita dan Waya. Oleh karena itu orang Dani dilarang
menikah dengan kerabat satu moety.· Nenek moyang orang
Dani keluar dari suatu tempat yaitu mata air “Seinma” di sebelah selatan
kota Wamena dan sebelah utara dari kecamatan Kurima. Mereka keluar pada waktu
itu dalam dua kelompok (moiety) yaitu Wita dan Waya.
· Manusia pertama yang hadir di dunia tinggal di gua Huwinmo (Maima) di
lembah Pugima, dianggap sebagai cikal bakal masyarakat Dani. Ia disebut Nmatugi.
Kedatangannya ke gua Huwinmo disertai oleh beberapa binatang melata,
beberapa jenis unggas, di antaranya ular dan burung.
Menurut legenda, pada suatu waktu terjadilah pertengkaran
antara burung dan ular. Mereka sepakat bahwa bila ular menang maka manusia
tidak mati (abadi) dan hanya akan berganti kulit seperti ular untuk
memperpanjang kehidupannya. Sebaliknya, jika burung yang menang maka manusia
harus mengalami kematian. Ternyata burunglah yang memenangkan pertengkaran itu,
maka manusia tidak abadi. Mereka yakin dan percaya akan kebenaran legenda asal
mula tersebut, tetapi mereka pun masih berharap akan mendapatkan kehidupan yang
abadi, tanpa penderitaan, penuh dengan kegembiraan, keadilan dan kemuliaan. Mereka
percaya bahwa sakit dan kematian dapat mereka hindari apabila terjalin hubungan
yang baik antara manusia dan nenek moyangnya.
3.
Bahasa
Bahasa adalah salah satu sarana komunikasi yang paling
vital. Di mana pun manusia berada, pasti menggunakan bahasa. Bahasa membantu
setiap orang untuk berelasi dengan orang lain. Apa pun bentuknya, bahasa yang
dimiliki oleh sekelompok orang tetap menjadi sarana komunikasi bagi
kelangsungan hidup kelompok tersebut. Bahasa yang digunakan secara umum oleh
suku Dani (sebutan buat orang-orang yang ada di lembah, yang digunakan oleh
orang-orang dari suku Moni; mereka menyebutnya Ndani, sedangkan orang
gunung menyebutnya Hubula/lembah) adalah bahasa Dani (Hubula)
yang termasuk dalam rumpun bahasa non-Austronesia.
Jika
dilihat dari penuturannya maka bahasa di daerah Jayawijaya dapat digolongkan
menjadi tiga rumpun bahasa yaitu:
a.
Rumpun bahasa Ok (ada juga di Papua New Nugini) bahasa Ngalum di
Oksibil dan Kiwirok sekitarnya dengan kira-kira 10.000 penutur.
b.
Rumpun bahasa Mee (belum jelas bagaimana bahasa tersebut digunakan).
c.
Rumpun bahasa Dani. Rumpun bahasa ini dapat digolongkan ke dalam tiga sub
rumpun yaitu: sub rumpun Yali-Ngalik, sub rumpun Dani Pusat dan sub
rumpun Wano.
Misalnya:Nayak
(sapaan selamat buat laki-laki, wilayah.
Teknologi asli masyarakat suku Dani sangat sederhana.
Alat-alat utama mereka terbuat dari batu yang gosok sampai halus, kayu dan
sejenis bambu yang disebut lokop. Alat-alat yang terbuat dari batu
antara lain kapak, pahat atau kapak tangan.
Batu-batu dihaluskan sehingga berwarna hitam,kemudian dibuat
tajam pada satu sisinya. Mata kapak dari batu dibentuk segi tiga dan diasah
satu sisinya, kemudian diberi tangkai kayu. Tangkai dan mata kapak disambung
dengan tali rotan yang dililitkan melintang dan saling tindih mengikat mata
kapak pada tangkainya.
Masyarakat
Dani mengenal bermacam-macam kapak, antara lain:
Ø Ewe Yake untuk membelah kayu,
Ø Yake keken untuk memotong,
Ø Yake Kewok (bentuknya seperti cangkul) untuk
mengorek tanah.
Untuk keperluan berkebun selain yake kewok, mereka
juga menggunakan tongkat penggali (digging stick) untuk
membalik-balikkan tanah agar menjadi gembur. Lubang-lubang untuk memasukkan
bibit dibuat dengan menggunakan kayu yang diruncingkan.
Tongkat penggali (digging stick)orang Dani panjangnya 1½-2 meter dan
tajam pada kedua ujungnya. Tongkat ini digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas
berat seperti membalik tanah. Tongkat untuk perempuan panjangnya 2-3 meter dan
digunakan untuk penyiangan, penanaman dan pemanenan. Ada juga pisau bambu yang
terdiri dari empat bagian bambu muda kira-kira 6-8 inci panjang dan cukup tajam
untuk menyembelih daging, memotong rambut, dan lain sebagainya. Selain itu, ada
juga pisau yang terbuat dari tulang rusuk babi.
Orang
Dani memiliki kantong berbentuk seperti jaring yang disebut noken. Noken terbuat
dari serat pohon melinjo (Ganemo). Perempuan Dani pada umumnya
mengenakan tiga lapis noken yang digantungkan dari dahi ke punggung. Noken
pertama yang paling bawah berisi hipere, noken kedua berisi anak
babi, dan noken yang ketiga berisi bayi sang ibu.
Dalam
masyarakat Dani juga ditemukan semacam dayung yang tampaknya digunakan sebagai
sekop sederhana. Di Dani bagian Barat digunakan semacam dayung (eleebe)
untuk menggali dan mengeluarkan hipere/hom yang ditimbun dalam abu
panas. Selain itu, orang Dani juga menggunakan kayu yang dibelah bagian
ujungnya dan berfungsi untuk memindahkan batu panas ke dalam lubang untuk
memasak daging. Variasi yang kecil dari kayu penjepit ini digunakan di rumah
untuk mengambil ubi (hipere) panas dari abu.
Orang Dani juga memiliki berbagai peralatan lain, yakni:
Ø molige yaitu
sejenis kapak batu yang ujungnya diberi besi, digunakan untuk menebang pohon;
Ø sege yaitu
sejenis tugal, untuk melubangi tanah;
Ø korok yaitu parang untuk membersihkan
ilalang;
Ø valuk yaitu sejenis sekop untuk
mencangkul tanah;
Ø wim yaitu
sebutan untuk busur;
Alat lain yang biasa dibawa oleh para lelaki Dani di dalam noken
adalah kotak peralatan untuk membuat api yang terdiri dari kayu kecil yang
terbelah di bagian tengahnya, batu, dan gulungan tumbuhan merambat kering untuk
menyulut api.
5. Sistem Mata Pencaharian
Nenek moyang orang Dani tiba di Papua sebagai hasil dari
suatu perpindahan manusia yang sangat kuno dari daratan Asia ke kepulauan
Pasifik Barat Daya Irian Jaya. Kemungkinan pada waktu itu masyarakat mereka
masih pra-agraris, yaitu baru mulai menanam tanaman dalam jumlah yang sangat
terbatas.
Mata pencaharian pokok suku Dani adalah:
1) Bercocok tanam ubi kayu dan ubi jalar yang disebut hipere
Ubi Jalar (hipere) adalah
tanaman terpenting dan utama. Mereka juga menanam keladi (hom), tebu (el),
pisang (haki)
dan berbagai jenis sayur mayur secara tumpang sari, misalnya, jagung, kedelai, buncis, kol, dan bayam,
sebagai tanaman yang baru diperkenalkan dari luar daerah.
Kebun-kebun milik suku Dani dibagi atas 3 jenis yaitu
:
a.
kebun-kebun di daerah rendah dan datar yang diusahakan secara menetap,
b.
kebun-kebun di lereng gunung,
c.
kebun-kebun yang berada di antara silimo.
Kebun-kebun tersebut biasanya
dikuasai oleh sekelompok atau beberapa kelompok kerabat. Batas-batas hak ulayat
dari tiap-tiap kerabat ini adalah sungai, gunung atau jurang. Dalam mengerjakan
kebun, orang Dani masih menggunakan peralatan sederhana, seperti tongkat kayu
yang berbentuk linggis (digging stick) dan kapak
batu.
2) Beternak babi
3) Berdagang
6. Organisasi Sosial
Organisasi kemasyarakatan pada suku
Dani ditentukan berdasarkan hubungan keluarga dan keturunan, dan berdasarkan
kesatuan teritorial. Unit terkecil dari ikatan sosial masyarakat lembah Baliem
adalah keluarga luas, yang biasanya terdiri dari tiga generasi dan bersifat
patrilokal. Keluarga luas ini tinggal dalam satu sili dengan jumlah
anggota pada umumnya belasan atau paling banyak sekitar dua puluhan. Di
dalamnya biasa tinggal orang tua laki-laki, beberapa anak perempuan dan
laki-laki generasi kedua beserta isteri dan anak-anak mereka. Kepala keluarga
luas dipilih lewat musyawarah. Beberapa keluarga luas tergabung dalam klen
kecil. Klen kecil ini bisa diisi oleh beberapa keluarga luas dari fam yang
sama atau dari fam yang berbeda. Indikatornya adalah kepala klen kecil
ini menguasai satu wilayah tanah tertentu dan biasanya tinggal dalam kesatuan
pemukiman seperti kampung, yang dalam bahasa setempat disebut yukmo.
Sebuah klen kecil merupakan kelompok kerja dalam bertani, khususnya pada
pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan gotong-royong, seperti membersihkan lahan
dan membuat pagar.
Lebih tinggi dari itu, ada klen besar yang merupakan
gabungan dari klen-klen kecil dalam aliansi teritorial yang jelas. Fungsi utama
dari organisasi sosial ini adalah sebagai aliansi untuk keperluan perang,
kesatuan adat, terutama upacara-upacara adat yang besar seperti pesta babi.
Setiap klen besar selalu memiliki honai adat.
Suku Dani dipimpin oleh seorang kepala suku besar yang
disebut Ap
Kain yang memimpin desa adat Watlangka. Selain itu, ada juga 3
kepala suku yang posisinya berada di bawah Ap Kain dan memegang
bidangnya sendiri-sendiri. Suku-suku itu adalah:
Ø Ap Menteg yaitu
kepala suku perang yang memimpin desa adat Silimo Mabel. Di Silimo inilah
disimpan benda-benda perang dan perdamaian.
Ø Ap Horeg yaitu
kepala suku kesuburan yang memimpin desa adat Silimo Logo. Di Silimo
inilah disimpan benda-benda kesuburan.
Ø Ap Ubalik yaitu
kepala suku adat atau penyembuhan yang memimpin desa adat Silimo Dabi.
Di silimo inilah disimpan benda-benda adat.
7. Sistem Pengetahuan
Suku Dani merupakan salah satu suku yang mempunyai peradaban
yang sangat tinggi. Hal itu bisa dilihat dari pengetahuan mereka untuk
menciptakan sesuatu yang berguna dan membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan mereka itu dapat dilihat dari kenyataan hidup seperti berikut ini.
a.)
Pembuatan pakaian tradisional (koteka,
sali dan yokul)
Orang
Dani tahu bahwa ada bagian tertentu dari tubuh yang harus ditutup, yakni bagian
kemaluan. Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki
sedangkan yokal untuk perempuan yang sudah menikah dan sali untuk
gadis. Koteka (holim/horim) terbuat dari kulit labu air. Isi dan biji
labu tua itu dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Ukurannya biasanya berkaitan
dengan aktivitas pengguna pada saat bekerja atau upacara adat. Koteka
yang pendek umumnya dipakai pada saat kerja sedangkan koteka yang
panjang digunakan pada saat upacara adat.
b.)
Pembuatan silimo (kampung)
Orang-orang
suku Dani sudah mengetahui bagaimana cara membuat rumah sebagai tempat hunian
yang baik dan aman. Hal ini dapat terlihat dari keahlian mereka dalam membuat silimo.
Dengan demikian maka kita dapat menyimpulkan bahwa suku Dani tidak
mengalami kehidupan nomaden.
c.)
Pembuatan kebun
Hampir
seluruh lembah dan lereng-lereng gunung digarap secara intensif dan efektif.
Kebun-kebun dikelilingi oleh suatu jaringan drainase. Lereng-lereng gunung pun
digarap dan dilengkapi dengan teras-teras. Tanamannya tumbuh subur di
mana-mana. Hal yang amat mengherankan di lembah besar itu sejak dulu ialah
ketelitian dalam membuat parit-parit dan kampung yang jarang dimiliki oleh
orang-orang dari suku lain.
Orang
Dani umumnya dan suku Dani khususnya memiliki pengetahuan akan
keutamaan-keutamaan hidup yang bernilai tinggi. Keutamaan-keutamaan itu ialah:
1. Relasi dengan sesama, dengan leluhur
dan dengan alam sekitarnya. Relasi ini merupakan hal yang amat penting.
2. Membagi dengan orang.
3. Kebersamaan: Orang Dani hidup
bersama dalam kampung, rumah laki-laki (honai) atau rumah keluarga (ebeai)
tanpa dinding pemisah dan ruangan pribadi. Mereka tidak memiliki banyak privacy
namun sekaligus otonom dan bebas. Mereka biasa kerja bersama, masak bersama dan
makan bersama. Justeru di sinilah letak kekuatan mereka yaitu kebersamaan.
4. Kesuburan manusia, hewan, tanah dan
sebagainya merupakan hal yang amat diharapkan oleh orang Dani. Mereka akan
berusaha memperoleh kesuburan itu dengan mentaati peraturan hidup yang
diwariskan oleh para leluhur. Lemak babi merupakan lambang kesuburan mereka.
5. Bekerja termasuk nilai yang baik
bagi orang Dani. Mereka menyadari bahwa segala kebutuhan tersedia di dalam
tanah. Mereka harus bekerja keras untuk mengolah tanah itu. Dengan demikian
maka orang Dani sejati sebenarnya tidak boleh mengemis. Mereka bangga kalau
bisa mengurus dirinya secara mandiri.
Suku Dani sangat menghormati nenek moyangnya. Penghormatan
mereka biasanya dilakukan lewat upacara pesta babi. Orang Dani beranggapan
bahwa nenek moyangnya berasal dari daerah bumi sebelah timur yang disebut Libarek.
Menurut mitologi Dani nenek moyang di Libarek berasal dari langit.
Tetapi karena ada sebagian dari mereka yang sering mencari ubi, tali langit
tersebut diputus dan
mereka harus tinggal di bumi, bekerja keras menanam hipere (sejenis ubi
jalar yang besar), dan beternak babi.
Orang Dani juga percaya pada roh yaitu roh laki-laki (Suanggi Ayoka) dan roh
perempuan (Suanggi Hosile). Roh-roh ini menitis pada tumbuhan, hewan dan
benda-benda. Roh orang mati, setelah meninggalkan tubuhnya tinggal di hutan.
Suku Dani mempercayai Atou,
yaitu kekuatan sakti yang berasal dari nenek moyang yang diturunkan kepada anak
laki-lakinya. Kekuatan sakti ini antara lain: kekuatan menjaga kebun, kekuatan
menyembuhkan penyakit dan menolak bala, dan kekuatan menyuburkan tanah. Untuk menghormati nenek moyangnya,
suku Dani membuat lambang nenek moyang yang disebut Kaneka. Lambang ini
terbuat dari batu keramat berbentuk lonjong yang diasah hingga mengkilap.
Orang-orang Dani meyakini bahwa manusia, babi dan pohon
kasuari bersaudara. Untuk setiap bayi yang lahir, ditanam satu pohon kasuari,
sehingga pada saat kematiannya, ada persediaan kayu bakar untuk membakar
mayatnya. Pohon kasuari yang termasuk keluarga pinus menurut kosmologi lokal
bersaudara dengan babi sebab bulu-bulu anak babi yang masih kasar dan bercorak
belang-belang menyerupai daun pohon kasuari. Pandangan inilah yang membuat
perempuan Dani sangat akrab dengan babi.
8. Kesenian
Kesenian masyarakat suku Dani dapat
dilihat dari:
1.
Cara membangun tempat kediaman mereka yaitu silimoyang terdiri dari beberapa
bangunan:
Ø Honai, merupakan
sebutan untuk rumah pada umumnya. Honai berasal dari kata hun
yang berarti pria dewasa dan ai yang berarti rumah. Jadi secara
harafiah, honai berarti rumah untuk pria dewasa. Honai berbentuk
bulat, atapnya seperti kubah dari daun ilalang. Garis tengahnya bisa mencapai 5
sampai 7 meter.
Ø Ebeai yaitu rumah
wanita. Ebe artinya tubuh atau pusat dan ai artinya rumah. Jadi
secara harafiah ebeai artinya rumah tubuh atau rumah induk. Ebeai
sama persis dengan honai, hanya garis tengahnya lebih pendek.
Ø Wamai artinya kandang babi. Wam
artinya babi dan ai artinya rumah. Jadi secara harafiah wamai
artinya rumah babi atau kandang babi. Wamai berbentuk persegi panjang
dan disekat sebanyak jumlah ebeai. Wamai juga
terletak dalam lingkungan silimo. Silimo sendiri berbentuk oval
dan dipagari oleh pagar kayu.
2.
Kerajinan tangan berupa anyaman kantong jaring penutup
kepala,
pengikat kepala dan pengikat kapak.
3. Seni tari Dani, terdiri dari:
Ø Hunike, salah satu tarian yang dimainkan
oleh satu orang atau beberapa orang secara bersama, berjejer dan terpisah dari
kelompok pengiring lagu. Tarian ini paling sering dilakukan pada saat upacara
perayaan kemenangan perang.
Ø Hologotiik, salah satu gerak tari yang
diperankan dalam posisi berdiri atau melompat di tempat.
Ø Dipik/Walin, merupakan tarian rakyat yang
dimainkan dengan cara membuat lingkaran dengan sebuah regu atau kelompok
penyanyi berada di tengah. Tarian ini dilakukan pada saat pesta pernikahan,
inisiasi, dan upacara lain yang dilaksanakan bersamaan dengan pembunuhan babi.
Ø Hulung, adalah tarian rakyat yang dimainkan
secara beramai-ramai ke sana ke mari dalam jarak yang dekat sambil bernyanyi
bersama. Tarian ini dilaksanakan pada saat upacara inisiasi bagi anak
laki-laki, upacara pernikahan dan upacara mawe (pesta babi).
Ø Tem/Sekan, merupakan tarian pergaulan yang
dilaksanakan oleh muda mudi di dalam honai dan dapur. Tari ini dimainkan
dengan cara duduk berjejer saling berhadapan muka antara putera dan puteri
sambil menyanyikan lagu-lagu rakyat.
Ø Hisilum, merupakan tarian pergaulan muda-mudi
untuk mendapatkan jodoh. Gerakan tari ini menggunakan bahasa isyarat sambil
menyanyi di tiap kelompok, baik kelompok pria maupun wanita dengan
melambai-lambaikan tangan.
4. Masyarakat Dani memiliki tiga macam
lagu tradisional (etai), yaitu:
Ø Etai Ewe Etai, merupakan jenis lagu-lagu utama yang
dinyanyikan baik pada acara-acara resmi maupun pada acara-acara tidak resmi.
Lagu yang dinyanyikan dalam acara-acara resmi, misalnya: lagu kemenangan dalam
perang (ap wataresik), lagu pada saat inisiasi (ap wayama), lagu
saat pesta perkawinan (heugumo/heyokalma), lagu pada saat pesta mawe (wam
eweakowa), dan lagu pada saat haid pertama bagi anak gadis Dani (he
hotarlimo). Lagu yang tidak resmi biasa dinyanyikan spontan pada saat
membuat honai dan membuka kebun baru.
Ø Etai Wene Pugut, merupakan salah satu bentuk lagu
tradisional Dani yang dinyanyikan dengan saling berbalasan pantun/syair. Isinya
adalah ungkapan perasaan emosional, kritikan-kritikan dalam kehidupan
sehari-hari, pesan-pesan tertentu dan sebagainya. Etai wene pugut dinyanyikan
pada saat pesta pernikahan (he yokal), pada saat pengusiran roh orang
mati dari tubuh seseorang (hat waganegma), saat atraksi tukar gelang (sekan/tem
kotilogolik), saat bersantai (heselum hagatilogolik).
Etai Lee Wuni atau Dee Wuni. Lee berarti
ratapan/tangisan dan Wuni berarti lagu, jadi lee wuni adalah lagu
ratapan yang isinya mengandung syair-syair tentang peristiwa-peristiwa
tertentu.
5. Jenis musik tradisional Jayawijaya
dapat dibedakan atas beberapa jenis musik, yaitu:
Ø Musik Pikon, yaitu sejenis
musik yang dihasilkan oleh alat musik tiup sekaligus bertali yang kalau ditiup
sambil menarik tali tersebut akan menghasilkan tiga nada dasar yaitu Do, Mi,
dan Sol.
Ø Musik Witawo, yaitu sejenis
musik yang dihasilkan dari Lokop (sejenis bambu muda yang beruas-ruas),
dimainkan dengan cara ditiup. Tinggi rendahnya bunyi sangat ditentukan oleh
ukuran dari lokop; yang panjang menghasilkan bunyi yang rendah sedangkan
yang pendek menghasilkan bunyi yang tinggi.
Ø Musik Aneletang, yaitu musik
yang dihasilkan dengan cara dipukul untuk menarik perhatian orang dalam tarian.
Jenis musik ini dapat dihasilkan dari sejumlah anak panah yang disatukan lalu
dipukul (sike tok), sejumlah pion yang dipotong-potong dan diikat lalu
dipukul (pion tok), dan batu-batu yang dipukul (helekit).
Ø Musik Ane Tutum, yaitu jenis
musik yang dihasilkan dari kulit yang ditabuh seperti gendang, yakni tifa.
Tifa terbuat dari jenis pohon weki dan kepi.
9. Sistem Agama
Suku bangsa
Dani tinggal di Lembah Baliem, Papua. Suku Dani lebih suka disebut suku bangsa
Parim/ suku bangsa Baliem. Suku bangsa Dani percaya pada roh, yaitu roh
laki-laki (Suangi Ayoka) dan roh perempuan (Suangi Hosile).
Suku bangsa Dani mempercayai
atou, yaitu kekuatan sakti yang berasal dari nenek moyang yang diturunkan
kepada anak lelakinya. Kekuatan tersebut meliputi:
a.
kekuatan menjaga kebun,
b.
kekuatan menyembuhkan penyakit,
dan
c.
kekuatan menyuburkan tanah
Kepercayaan Suku Dani menganut
konsep yang dinamakan Atou, artinya adalah segala kesaktian yang dimiliki oleh
para leluhur suku Dani diberikan secara turun temurun kepada kaum lelaki.
Menurut budaya suku Dani, jenis kesaktian tersebut antara lain adalah
kesaktian agar bisa punya kekuatan untuk menjaga kebun, kesaktian agar mampu
mengobati penyakit sekaligus menghindarinya dan kesaktian untuk menyuburkan
tanah yang digunakan untuk bercocok tanam.
Untuk memberi penghormatan kepada leluhur, suku Dani menciptakan lambang
untuk mereka sendiri yang dinamakan dengan kaneka. Fungsi kaneka ini adalah
dipakai atau dimunculkan ketika sedang diselenggarakannya upacara tradisi
bersifat keagamaan untuk membuat semua anggota masyarakt bisa sejahtera serta sebagai
simbol ketika akan memulai perang dan mengakhirinya.
Salah satu praktek extrime yang di percayai masyarakat dani adalah cara
mengekspresikan rasa sedih dengan cara memotong jari. Bagi Suku Dani, jari bisa
diartikan sebagai symbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia
maupun sebuah keluarga. Walaupun dalam penamaan jari yang ada ditangan manusia
hanya menyebutkan satu perwakilan keluarga yaitu Ibu jari. Akan tetapi jika
dicermati perbedaan setiap bentuk dan panjang jari memiliki sebuah kesatuan dan
kekuatan kebersamaan untuk meringankan semua beban pekerjaan manusia. Jari
saling bekerjasama membangun sebuah kekuatan sehingga tangan kita bisa
berfungsi dengan sempurna. Kehilangan salah satu ruasnya saja, bisa
mengakibatkan tidak maksimalnya tangan kita bekerja. Jadi jika salah satu
bagiannya menghilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah
kekuatan.
Alasan lainya adalah “Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik” atau
pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu marga, satu honai
(rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan
sebagainya. Kebersamaan sangatlah penting bagi masyarakat pegunungan tengah
Papua. Kesedihan mendalam dan luka hati orang yang ditinggal mati anggota
keluarga, baru akan sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa
sakit lagi. Mungkin karena itulah masyarakat pegunungan papua memotong jari
saat ada keluarga yang meninggal dunia.
Tradisi Potong Jari di Papua sendiri dilakukan dengan berbagai banyak
cara, mulai dari menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Ada
juga yang melakukannya dengan menggigit ruas jarinya hingga putus, mengikatnya
dengan seutas tali sehingga aliran darahnya terhenti dan ruas jari menjadi mati
kemudian baru dilakukan pemotongan jari. Selain tradisi pemotongan jari, di
Papua juga ada tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut
adalah tradisi mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh anggota atau kelompok
dalam jangka waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai arti bahwa setiap orang
yang meninggal dunia telah kembali ke alam. Manusia berawal dari tanah dan
kembali ke tanah.
Beberapa sumber ada yang mengatakan Tradisi potong jari pada saat ini
sudah hampir ditinggalkan. Jarang orang yang melakukannya belakangan ini karena
adanya pengaruh agama yang mulai berkembang di sekitar daerah pegunungan tengah
Papua. Namun kita masih bisa menemukan banyak sisa lelaki dan wanita tua dengan
jari yang telah terpotong karena tradisi ini.
BAB IV
Kesimpulan
Setiap suku di suatu daerah pasti memiliki ciri khas
kebudayaannya masing-masing. Ciri ini membedakan satu suku dengan suku yang
lainnya. Hal yang sama juga terlihat pada suku Dani. Dari hasil pembahasan di
atas, penulis menyimpulkan bahwa suku Dani memiliki kekayaan etnografi yang
bernilai tinggi. Semuanya nampak jelas dalam berbagai segi kehidupan
masyarakatnya, misalnya dalam bidang pertanian. Sejak dulu masyarakat Dani
sudah mengenal cara berkebun yang sangat maju. Hal ini terbukti lewat cara
pembuatan bedeng-bedeng yang dilengkapi dengan parit-parit di pinggirnya untuk
mempermudah irigasi. Hal lain juga bisa terlihat dari cara mereka membuat rumah
yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk kompleks pemukiman yang rapi.
Ketika
berhadapan dengan arus modernisasi, suku Dani tetap berusaha mempertahankan
ciri khas budayanya, meskipun terjadi banyak perubahan dalam seluruh aspek
kehidupan. Perubahan yang dimaksud menyebabkan terjadinya asimilasi,
inkulturasi dan konfrontasi dengan budaya setempat. Jika dilihat secara
sepintas maka kehidupan suku Dani yang sekarang sudah mulai berbeda dari
kehidupan beberapa generasi suku Dani terdahulu. Meskipun demikian, ada
tradisi-tradisi tertentu yang masih dilaksanakan dan dipertahankan keasliannya.

A casino is a casino if you want to take advantage of free casino games
BalasHapusand bonuses, and more in casinos like these 포항 출장샵 too. There are 통영 출장샵 a few 제주도 출장샵 good 경주 출장안마 casinos that have a good reputation for giving 보령 출장샵 players free spins or